SIFAT-SIFAT ORANG SHOLEH
وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ،
وَبِيَدِهِ مَلَكُوْتُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ
قَدِيْرٌ ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، اْلبَشِيْرُ النَّذِيْرُ
، السِّرَاجُ الْمُنِيْرُ ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ، وَأَصْحَابِهِ
وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىْ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
Alhamdulilllah, segala puji kita panjatkan kehadirat Allah swt bahwa hingga
saat ini, Allah masih memberi kita kesempatan untuk menyempurnakan pengabdian
kita kepadaNya, dengan harapan mudah-mudahan segala kekurangan dalam proses
pengabdian itu diampuni oleh Allah swt. Mudah-mudahan
juga momentum hari jumat ini semakin memberikan kita kesadaran akan peningkatan
kualitas iman dan takwa kita kepadaNya. Amin.
لَيْسُواْ سَوَاء مِّنْ
أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللّهِ آنَاء اللَّيْلِ
وَهُمْ يَسْجُدُونَ {113}
Mereka tidak sama; di antara Ahli
Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada
beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).
Sebagian mufasirin, bahasannya orang Islam tidak sama
danlebih mulia diabnding umat nasrai/umat yahudi
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 113
Tetapi tafsir adri ayat ini yang lebih mendasar adalah yang dimaksud bahwa orang yahudi yang sudah memeluk Islam itu tudak sama dengan yang belum mengakui Islam.
Tetapi tafsir adri ayat ini yang lebih mendasar adalah yang dimaksud bahwa orang yahudi yang sudah memeluk Islam itu tudak sama dengan yang belum mengakui Islam.
Orang-orang Yahudi itu adalah suatu kaum yang mempunyai
sifat-sifat dan perbuatan buruk. antara lain mereka kafir kepada ayat-ayat
Allah SWT, membunuh para nabi tanpa alasan yang benar dan lain-lain sebagainya.
Tetapi
tidaklah mereka semua sama. Ada juga di antara mereka yang sudah beriman, sekalipun
kebanyakan di antaranya adalah orang-orang fasik.
di
antaranya Abdullah
bin Salam al Yahudi,
Sa'labah bin Said, Usaid bin `Ubaid dan kawan-kawannya adalah orang-orang
Yahudi dari orang-orang Ahli Kitab yang menegakkan kebenaran dan keadilan,
tidak menganiaya seseorang, memeluk agama Islam dengan kuat dan teguh serta tidak melanggar
perintah-perintahnya.
Mereka membaca ayat-ayat suci Alquran dengan penuh ketekunan dan penuh perhatian, di waktu malam di kala orang tidur nyenyak, mereka bangun melepaskan selimutnya, meninggalkan istrinya yang cantik dan kasur dan bantalnya yang empuk untuk melakukan salat Tahajud, mengadakan hubungan langsung dengan Allah SWT. Dan tidak cukup hanya membaca al Qur`an tetapi mereka juga:
Mereka membaca ayat-ayat suci Alquran dengan penuh ketekunan dan penuh perhatian, di waktu malam di kala orang tidur nyenyak, mereka bangun melepaskan selimutnya, meninggalkan istrinya yang cantik dan kasur dan bantalnya yang empuk untuk melakukan salat Tahajud, mengadakan hubungan langsung dengan Allah SWT. Dan tidak cukup hanya membaca al Qur`an tetapi mereka juga:
يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُوْلَـئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ {114}
Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka
menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada
(mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah
Ali 'Imran 114
Mereka beriman kepada Allah SWT dan kepada hari akhirat dengan iman yang sungguh-sungguh, iman yang tidak dicampur dengan kemunafikan. Beriman kepada Allah SWT berarti beriman pula kepada yang wajib diimani dan dipercayai, mencakup rukun-rukun iman seperti beriman kepada malaikat, para rasul, kitab-kitab samawi, kada dan kadar dan lain-lain sebagainya. Beriman kepada hari akhirat, berarti menjauhi segala macam maksiat, karena yakin apabila mereka berbuat maksiat di dunia mereka di azab nanti di hari kemudian dan mereka mengerjakan kebaikan karena mengharapkan pahala dan keridaan Allah SWT.
Setelah mereka menyempurnakan diri dengan sifat-sifat dan amal-amal perbuatan yang baik itu, merekapun masih berusaha lagi untuk menyelamatkan orang-orang lain dari kesesatan, yaitu dengan membimbing mereka kepada jalan kebaikan dengan amar makruf,dan nahi munkar atau mencegah mereka dari perbuatan yang dilarang agama. Selanjutnya mereka secara bersama-sama bersegera dan berlomba-lomba mengerjakan pelbagai kebaikan.
Mereka beriman kepada Allah SWT dan kepada hari akhirat dengan iman yang sungguh-sungguh, iman yang tidak dicampur dengan kemunafikan. Beriman kepada Allah SWT berarti beriman pula kepada yang wajib diimani dan dipercayai, mencakup rukun-rukun iman seperti beriman kepada malaikat, para rasul, kitab-kitab samawi, kada dan kadar dan lain-lain sebagainya. Beriman kepada hari akhirat, berarti menjauhi segala macam maksiat, karena yakin apabila mereka berbuat maksiat di dunia mereka di azab nanti di hari kemudian dan mereka mengerjakan kebaikan karena mengharapkan pahala dan keridaan Allah SWT.
Setelah mereka menyempurnakan diri dengan sifat-sifat dan amal-amal perbuatan yang baik itu, merekapun masih berusaha lagi untuk menyelamatkan orang-orang lain dari kesesatan, yaitu dengan membimbing mereka kepada jalan kebaikan dengan amar makruf,dan nahi munkar atau mencegah mereka dari perbuatan yang dilarang agama. Selanjutnya mereka secara bersama-sama bersegera dan berlomba-lomba mengerjakan pelbagai kebaikan.
Oleh karena mereka telah memiliki sifat-sifat mulia dan amal-amal baik maka , Allah SWT memasukkan mereka kepada golongan orang-orang yang saleh.
وَمِنَ اللَّيْلِ
فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا
مَّحْمُودًا {79}
Dan pada sebahagian malam hari
bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan
Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.
Sholat malam juga merupakan kebiasaan yang dikerjakan
orang-orang sholeh terdahulu :
Kerjakan sholat malam, sebab hal itu adalah kebiasaan orang-orang
sholeh sebelum kamu. Sejak zaman dulu dan suatu jalan untuk mendekatkan
diri kepada Allah dan jalan penebus dosa-dosa serta dapat menyingkairkan
penyakit dari tubuhmu.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Israa' 79
وَمِنَ
اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ
مَقَامًا مَحْمُودًا (79)
Ayat ini memerintahkan Rasulullah dan kaum Muslim agar bangun
di malam hari dan mengerjakan salat tahajud.
Ayat ini merupakan ayat yang pertama kali memerintahkan Rasulullah mengerjakan salat malam sebagai tambahan atas salat yang wajib.
Ayat ini merupakan ayat yang pertama kali memerintahkan Rasulullah mengerjakan salat malam sebagai tambahan atas salat yang wajib.
Salat malam ini diterangkan oleh hadis Nabi saw: Yang Artinya:
Bahwasanya Nabi saw ditanya orang: "Salat manakah yang paling utama setelah salat yang diwajibkan (salat lima waktu). Rasulullah saw menjawab: Salat tahajud". (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)
Dari hadis-hadis Nabi yang sahih, yang diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu Abbas dipahami bahwa Nabi Muhammad saw mengerjakan salat tahajud, setelah beliau tidur dahulu, kemudian bangun.
Bahwasanya Nabi saw ditanya orang: "Salat manakah yang paling utama setelah salat yang diwajibkan (salat lima waktu). Rasulullah saw menjawab: Salat tahajud". (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)
Dari hadis-hadis Nabi yang sahih, yang diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu Abbas dipahami bahwa Nabi Muhammad saw mengerjakan salat tahajud, setelah beliau tidur dahulu, kemudian bangun.
Kebiasaan Nabi ini dapat dijadikan dasar hukum bahwa salat
tahajud itu lebih baik (sunah) dikerjakan oleh seseorang, setelah ia tidur
beberapa saat di malam hari, kemudian pada pertengahan malam hari ia bangun
untuk salat tahajud.
Kemudian Allah SWT menerangkan hukum salat tahajud itu adalah sebagai ibadat tambahan Rasulullah di samping salat yang lima, oleh karena itu maka hukumnya bagi Rasulullah adalah wajib melakukannya, sedang bagi umatnya salat tahajud adalah sunah hukumnya.
Dalam ayat ini diterangkan tujuan salat tahajud itu bagi Nabi Muhammad ialah agar Allah SWT dapat menempatkannya di tempat yang terpuji.
Yang dimaksud dengan "maqaman mahmudan" ialah syafaat Rasulullah saw pada hari kiamat. Pada hari itu manusia mengalami keadaan yang sangat susah yang tiada taranya. Yang dapat melapangkan dan meringankan manusia dari keadaan yang sangat susah itu hanyalah permohonan Nabi Muhammad saw kepada Tuhannya, agar orang itu dilapangkan dan diringankan dari penderitaannya. Diriwayatkan oleh Tirmizi dari Abu Hurairah, Ia berkata: "Berkata Rasulullah saw tentang yang dimaksud dengan "maqaman mahmudan" dalam ayat ini: "Maqaman mahmudan" itu ialah syafaatku. (Hadis Hasan Sahih) Berkata Ibnu Jarir: "Kebanyakan para ahli berkata: "Yang dimaksud dengan "maqaman mahmudan" itu ialah suatu kedudukan yang dipergunakan oleh Rasulullah saw pada hari kiamat untuk memberi syafaat kepada manusia, agar Allah SWT meringankan bagi mereka kesusahan dan kesulitan yang mereka alami pada hari ini".
Diriwayatkan oleh An Nasai dan Al Hakim dan segolongan ahli Hadis dari Huzaifah ia berkata: "Allah mengumpulkan manusia pada suatu daratan yang luas pada hari kiamat, mereka semua berdiri dan tidak seorangpun yang berbicara pada hari ini kecuali dengan izin Nya. Orang-orang yang mula-mula diseru namanya ialah Muhammad, maka Muhammad berdoa kepada Nya. Maka inilah yang dimaksud dengan "maqaman mahmudan" dalam ayat ini.
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw bersabda:
Artinya:
Barangsiapa yang membaca doa setelah selesai mendengar azan "Wahai Tuhanku: "Tuhan Yang Empunya seruan Yang Sempurna dan salat yang dikerjakan ini, berilah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan dan angkatlah ia kepada al maqamam mahmudan (kedudukan yang terpuji) yang telah Engkau janjikan kepadanya", maka dia memperoleh syafaatku".
Diriwayatkan dari Muslim dari Anas, ia berkata: "Telah mengabarkan Rasulullah kepada kami, beliau berkata: "Apabila datang hari kiamat, dan manusia itu berbondong-bondong, maka mereka menghadap Adam as, mereka meminta kepadanya: "Berilah syafaat untuk anak cucu engkau". Adam menjawab: "Aku tidak mempunyainya tetapi pergilah kepada Ibrahim, maka sesungguhnya dia Khalilullah. Maka merekapun menghadap Ibrahim as,
Ibrahim menjawab: "Aku tidak mempunyainya, tetapi pergilah kepada Musa, maka sesungguhnya ia adalah: Kalimullah. Setelah mereka meminta kepada Musa; Musa menjawab: "Aku tidak mempunyainya, tetapi pergilah kepada Isa, sesungguhnya dialah ruh yang ditiupkan Allah dari kalimat Nya". Mereka menghadap Isa, Ia berkata: "Aku tidak mempunyainya, tetapi pergilah kepada Muhammad saw". Maka merekapun menghadap kepadaku dan memintanya, aku menjawab: "Aku mempunyainya". Tentang kedudukan Nabi Muhammad saw di hari kiamat, diriwayatkan oleh Al Tirmizi dari Said Khudri, bahwasanya Nabi saw bersabda:
Artinya:
Aku adalah pimpinan anak cucu Adam pada hari kiamat. Aku tidak membanggakan diri, dan di tangankulah terpegang liwa'ul hamdi (bendera memuji Tuhan) aku tidak membanggakan diri. Tidak ada seorang Nabi pun pada hari itu, sejak dari Adam sampai Nabi-nabi yang lain, kecuali berada di bawah benderaku itu". (H.R. Tirmizi)
Dari ayat dan hadis-hadis di atas dipahami bahwa Nabi Muhammad saw dengan mengerjakan salat tahajud sesuai dengan yang diperintahkan Allah itu akan diangkat oleh Allah SWT ke tempat dan kedudukan yang dipuji oleh umat manusia, para malaikat dan Allah Tabaraka Wata`ala dengan memberi syafaat kepada umat manusia yang berada di padang Mahsyar di saat yang amat gawat dengan se izin Allah, dan umat manusia yang memang berhak mendapat syafaat, berdasarkan amal saleh, ilmu pengetahuan dan budi pekerti mereka semasa di dunia akan mendapat syafaatlah mereka dengan diampuni dosanya oleh Tuhan atau dinaikkan derajatnya.
Pada firman Allah yang lain diterangkan bahwa bangun di tengah malam salat tahajud, kemudian membaca Alquran dengan tertib dan fasih, mengikuti dengan hati arti dari ayat-ayat itu, dapat membuat iman jadi kuat, memperkuat mental dan membina diri pribadi, karena beribadat di malam hari itu dapat dilakukan dengan khusyuk. Allah SWT berfirman:
يَا
أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ
انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
(4) إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ
قَوْلًا ثَقِيلًا (5) إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
(6)
Artinya:
Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (Q.S. Al Muzammil: 1-6).
Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (Q.S. Al Muzammil: 1-6).
Sanking
begitu besar fadhillah shalat lail/shalat tahajud hampir RSAW tidak pernah
meninggalkan untuk mengerjakan shalat Tahajud ini, dikisahkan bahwasannya:
Suatu
ketika, Abdullah ibnu Umar bersama
beberapa sahabat mengunjungi sayyidah `Aisyah, setelah bertemu dengannya
(sayyidah `Aisyah ) beliau bertanya: “tolong ceritakan kepada kami perilaku
RSAW yang paling menakjubkan, yang pernah engkau saksikan wahai `Aisyah !”.
Sayyidah `Aisyah
pun menangis dan berkata: Seluruh
perilaku belia RSAW menakjubkan. Pada malam giliran beliau untuk tidur di
rumahku, saat beliau tidur disampingkudan kulitku telah bersentuhan dengan
kulitnya, beliau berkata kepadaku: Duhai
~Aisyah , apakah malam ini engkau mengijinkan aku untuk beribadah kepada
Tuhanku ? mendengar ucapan Rosul yang begitu halus ini, sayyidah `Aisyah pun
menjawab dengan sangat romantik “ sesungguhnya aku sangat ingin untuk
berdekatan denganmu, tetapi aku sangat menyukai apa yang engkau sukai.
Kuijinkan engkau RSAW kekasihku untuk beribadah kepada Allah.
RSAW
kemudian bangkit melepas selimut meninggalkan istrinya yang cantik lagi muda,
menuju tempat air yang telah disiapkan untuk berwudhu dan kemudian menunaikan
shalat malam / tahajud. Ketika berdiri beliau menangis hingga membasahi janngutnya dan ketika sujud beliau menangis
hingga membasahi bumi/lantai sujudnya. Setelah selesai shalat tahajud beliau
berbaring dan menangis. Ketika Bilal datang menemui beliau memberitahukan bahwa
waktu shalat subuh telah tiba dan melihat beliau menangis, maka Bilalpun bertanya
“Duhai Rosul apa yang membuat dirimu menangis ? Bukankah Allah telah mengampuni
segala kesalahanmu yang telah lalu dan yang akan datang ? Wahai Bilal, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan
pada malam ini telah turun kepadaku wahyu
Allah yang berbunyi :
إِنَّ
فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ
لِّأُوْلِي الألْبَابِ {190}
Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
Nabi
menjawab: "Apakah saya ini bukan seorang hamba yang pantas dan layak
bersyukur kepada Allah SWT? Dan
bagaimana saya tidak menangis? Pada malam ini Allah SWT telah menurunkan ayat itu kepadaku.
Selanjutnya beliau berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ayat ini tetapi tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya.
Selanjutnya beliau berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ayat ini tetapi tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ
جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا
خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ {191}
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri
atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):` Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka.
Duhai Rosul agung budi pekertimu. Malam itu
engkau hendak menghadap kepada Allah,
shalat dan berdo`a kepada-Nya untuk itu sebetulnya engkau tidak membutuhkan
izin kepada siapapun, akan tetapi engkau sapa istrimu dengan lembut, “Apakah
malam ini, ... engkau duhai `Aisyah mengizinkan diriku beribadah kepada Tuhanku?
sungguh mulia dirimu Ya Rosulullah.
Demikianlah khutbah yang
bisa kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita. Yang benar semuanya dari
Allah SWT, dan apabila ada yang salah hal itu karena kekurangan dan kelemahan
saya.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُراْنِ الْعَظِيْمِ
, وَنَفَعَنِيْ وَإِياَّكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلأَياَتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ
, أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا واسْتَغْفِرُاللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ
الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَتْبٍ , فاَسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ
هُوَالْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وِلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ
سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاَّ لِلَّذِينَ
آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ
أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ
وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا
عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, وَأَقِمِ الصَّلاَةَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, وَأَقِمِ الصَّلاَةَ